Liburan Kelas [2-4 April 2019]

[Misal kalian tahu siapa aku sebenarnya, atau kalian kenal aku, aku MOHON kalian pura-pura tidak pernah membaca ini, okay? Aku menulis ini untuk mengekspresikan sedihku saja, bukan untuk mencari perhatian. Namun, akan baik jika kalian mengambil hikmah yang aku letakkan di paling bawah :-)]

this will be kinda dramatic and SUPER extra, but please keep that for yourself, okay?

So, hi! Anggap saja namaku Zara. Aku tinggal di Surabaya. Ini adalah blog pertamaku, setelah blog yang pernah kubuat saat SD, juga setelah blog tugas dari guru. Maksudku, ini adalah blog pertamaku, yang tentang diriku, dan kubuat atas kemauanku sendiri.

Aku tidak akan menulis dengan bahasa yang baku sempurna, bahkan kadang bisa tak jelas. Karena aku tak peduli. Maksudku, aku menulis ini bukan untuk menjadi blogger profesional, melainkan hanya untuk mengekspresikan diriku saja.

Jadi, aku baru saja pulang dari Stasiun Gubeng dari liburan kelas di Batu karena yang kelas 12 sedang Ujian Nasional, dan kami masih kelas 10. Aku juga baru saja mengalami mental breakdown. Dan itulah alasanku menulis ini.

Pada tanggal 2 April 2019, aku berangkat bersama teman-teman sekelasku ke Batu. Kami langsung menuju ke Jatim Park 2, setelah perjalanan selama 5 jam, yang itu adalah tidak normal, karena saat itu Singosari sedang macat total, sehingga bapak supir melewatkan kami di rute yang mungkin dua kali lipat lebih jauh. Kami sempat makan durian juga di pinggir jalan.

Awalnya aku sudah merasa tak enak, karena aku bernyanyi sangat banyak dan lama-aku tahu di agamaku itu tidak boleh. Aku sudah lama tidak bernyanyi. Namun, situasi ini sangat menggiurkan-aku tidak bilang memaksa-untuk dilakukan. Bayangkan saja, bernyanyi bersama teman-teman di bus. Apalagi lagu yang sangat pas dengan diri kita.

Saat kami sudah sampai di Jatim Park 2, ternyata hujan. Jadi, kami shalat dan makan dulu di alun-alun Batu, lalu kembali lagi ke Jatim Park 2 karena hujan sudah berhenti. Kami pun menikmati pemandangan berupa hewan-hewan unik dan lucu yang ditampilkan. Saat sudah sampai di area wahana, yaitu Rumah Horror, hujan pun mengguyur kami dengan sangat deras. Untung saja kami sudah berada di bawah atap.

Ini adalah yang pertama. Sebagai orang yang paling banyak memutuskan pilihan, berkontribusi dan bertanggung jawab atas liburan kelas ini, aku merasa sangat bersalah, meskipun bukan aku yang menurunkan hujan. Kuperjelas lagi, aku takut dibenci. Aku bisa dibenci karena ini, dan aku hanya bisa berkata pada diriku bahwa ini bukan salahku, meskipun aku juga salah karena tidak memikirkan tentang kemungkinan ini jauh-jauh hari.

Yang kedua, aku bersama lima temanku masuk ke dalam Rumah Horror, dan saat kami telah menyelesaikan rutenya, kami berniat ke foodcourt, dan karena saat itu masih hujan deras, kami berlindung di bawah satu jas hujan  yang dibawakan salah satu temanku. Aku berada di paling belakang. Kelima temanku lainnya adalah Ela, Diva, Evelyn, Naufal, dan Allvar. Naufal berada tepat di depanku.

Lalu, kamipun beranjak menerjang hujan. Tiba-tiba, Naufal tersandung sedikit oleh cor-coran yang mengelilingi tanaman. Lalu, akupun berusaha konsentrasi agar aku tidak tersandung juga. Saat aku berkonsentrasi, Naufal berteriak "Eh, sandalku jatuh!". Kala itu, aku masih berusaha melewati tanaman tersebut. Saat sudah berhasil, aku berbalik ke belakang, melihat keadaan sandal Naufal. Oke, ingat kembali bahwa ini sedang hujan sangat deras, dan kami berenam dipayungi oleh satu jas hujan, dan momen ini sangat kacau dan hectic.

Aku jelas-jelas melihat sandal Naufal di saluran got. AKU BISA MENGAMBIL ITU. Aku sungguh bisa. Aku sudah hendak mengambilnya, tetapi teman-temanku yang di depan sudah bergerak maju dan tentu saja membawa jas hujan bersama mereka. Aku bisa kehujanan basah kuyup jika mengambilkan. Aku cukup egois saat itu.

Hal lucunya, saat aku tidak bisa mengambil sandal tersebut, aku tertawa. Tertawa sangat keras hingga aku pipis di celana. Sungguh. Aku tidak berpikir akan kedepannya, dan aku kira bakal ada yang mengambilkan sandal itu untuknya.

Saat kami sudah sampai di food court, tiba-tiba rasa bersalah memenuhi perasaanku. Maksudku, aku tidak berniat menulis ini dengan latar belakang suasana yang dramatis. AKU HANYA SANGAT MENYESAL. Naufal sudah pernah kehilangan handphone-nya sebelum menonton bioskop denganku dan teman-temanku, dan aku menjadi salah seorang yang tahu pertama tentang kehilangannya dan aku benar-benar merasakan ketegangan di situasi tersebut. Dan kali ini, di saat aku bisa membantu, aku tidak melakukannya. Ini bukan tentang romansa. Ini tentang seseorang yang ingin membantu tetapi terhalang egonya sendiri, dan selanjutnya memarahi dirinya sendiri, dan pada akhirnya memakan amarah dan depresinya sendiri.

Dan tak lupa, aku menceritakan teman-temanku tentang aku pipis di celana dan meminta saran mereka. Akupun memilih saran yang menyuruhku mencuci celanaku, semuanya. Akupun pergi ke kamar mandi dan benar-benar mencuci basah semua celanaku. Sudah aku tak membantu Naufal, sama basahnya pula badanku-meskipun hanya sepanjang kedua kakiku saja.

Untungnya, itu adalah hal mengesalkan terakhir pada hari itu. Hari esoknya, tanggal 3 April 2019, kami hanya staycation-liburan di tempat tinggal sementara kami, yaitu di villa-sampai sore. Kami berenang dan bermain billiard, dan kami mengobrol banyak. Saat sore, kami pergi ke Alun-Alun Kota Batu, dan kami menikmati banyak makanan. Sepulangnya, kami melakukan barbeque ala-ala membakar sosis, jagung, dan pentol. Iya, banyak makan, iya.

Ini adalah awal mula masalahku yang ketiga. Aku melihat setumpuk jagung yang kulitnya dilepas hampir semua kacuali bagian atas, lalu kulit yang lepas ini dikepang. Bayanganku, mama bakal marah kalau aku membakar jagung dan masih ada kulitnya, meskipun kulitnya sudah berada di luar area biji jagung yang akan dibakar. Karena, semua yang aneh, mamaku benci. Dan menurutku, jagung ini aneh karena memiliki seperti rambut dari kulitnya sendiri yang dikepang. Jadi, instingku, aku mencabut kulit ini.

Ternyata, Mamanya Della temanku, yang bagian memasak dan mempersiapkan masakan, telah menyiapkan kepangan kulit itu untuk pegangan saat dibakar. Teman-temanku serta Mamanya Della pun membilangiku kebenarannya, dan mereka sedikit menyinggungku dan nadanya tak enak. Dan, here we go my depression and anxietyAku merasa sangat bersalah dan bodoh dan aku adalah manusia paling buruk dan menyedihkan seantero galaksi. Refleksku membawa kepalaku kepada dada mamaku, dan aku menangis di dekapan mamaku. Aku tak kuat, lalu aku lari ke kamar mandi terdekat, dan sungguh-sungguh menangis di sana. Semua orang bilang aku sensitif. Maaf.

Akupun membenahi diriku, dan menghabiskan perasaan-perasaan yang tersisa untuk keluar bersama air mataku. Akupun keluar seolah-olah mereka tak tahu apa yang telah dan sedang terjadi. Aku melihat teman-temanku membakar sosis. Aku mengikuti mereka dan bercanda tawa banyak.
SHOUTOUT BUAT ALUL, AUREL, DAN EVELYN karena mereka benar-benar membantu mentalku pulih. Meskipun mereka tak merasa melakukan apa-apa padaku, tetapi aku merasakan tanggapan mereka saat berbicara denganku itu berbeda. Mereka baik. Mereka menghargai keberadaanku. Di saat aku berbicara tak jelas, aku sudah biasa tidak dijawab oleh siapapun, tetapi saat itu Alul menjawab. Tentu saja aku akan mengingat kebaikannya.

Malam itu ditutup dengan hal-hal indah, dalam arti aku banyak bercanda tawa dengan teman-temanku. Apalagi Shafira, ia memujiku dengan cara yang unik. Saat itu, aku berdiri di depan televisi, lalu, Shafira menunjuk TV, dan berkata "Hee, lucu!". Lalu aku menoleh ke Shafira, bingung, dan aku melihat kembali ke arah TV, mengira bahwa Shafira membicarakan tentang sesuatu di TV. Lalu, Shafira berkata "Kamu,"kepadaku. Maksudnya, aku lucu. Terima kasih, Shafira!

Keesokan harinya, hari terakhir kami di Batu, juga hari ini, saat aku menulis ini, yaitu 4 April 2019. Kami hanya bersiap-siap untuk pulang naik kereta api. Hal-hal menyenangkan terjadi di saat pagi. Contoh saja, temanku bernama M-nama aslinya M. Aldi, tetapi hanya dipanggil M-meloncat dari lantai dua ke kolam renang di lantai satu. Gila. Sekaligus keren. Aku bisa jatuh cinta saking kerennya. Tetapi, untuk sekarang, tidak. Atau... belum? Hanya Allah yang tahu.

Lalu, kami pergi ke Stasiun Kota Malang Baru dengan Grab. Sampai sana, ternyata sepatu temanku, Fina, tertinggal di mobil Grab. Situasi menjadi tegang. Fina menelponi bapak supir Grab-nya, dan yang lain hanya bengong melihati, dan beberapa ada yang berbincang-bicnang, entah membicarakan apa. Lalu, karena waktunya sudah mepet, dan kami belum shalat, aku berkata pada Mamanya Della, "Tante, ini yang sudah siap langsung shalat aja ya, nggak papa, kan?" Dalam arti kami yang sudah siap shalat, langsung shalat saja tanpa menunggu Fina menelpon bapak Grab, karena menurutku tidak perlu. Toh ya kami tidak dapat membantu apa-apa. Mamanya Della mengiyakan, "Iya, yang siap langsung masuk aja, nggak papa,"dengan suara lirih.

Akupun mengumumkan kepada teman-temanku dengan suara lantang, "Rek, yang sudah siap langsung check-in, terus shalat." Tiba-tiba, temanku, Diva, menangkas "Sek ta, Fina masih kesusahan ini loh," (seingatku seperti itu, yang jelas intinya itu). Aku yang sedang emosional waktu itu langsung menyentak "Aku udah izin, btw," dan langsung berjalan menjauhi kerumunan, dengan mataku hampir meneteskan air mata.

Diva mendatangiku dan berkata dengan cukup lantang, "Ojok ngamuk a, Zara ngamukan saiki." Lalu, aku menjawab "Enggak, nggak papa." Lalu, dia berkata lagi, "Ojok ngamuk." Lalu, aku berbalik dan berkata, "Ojok ngono, engkok aku nangis," lalu ia langsung terdiam. Aku merasa semua temanku mendengar itu.

Untuk klarifikasi, aku takut salah. Itulah kenapa aku langsung emosional waktu aku disalahkan, meskipun aku merasa aku tidak salah. Justru itu lebih menyakitkan. Dan aku tidak membenci siapapun. Jadi, jangan berpikiran aneh-aneh.

Waktu pun berjalan, aku akhirnya masuk ke dalam gerbong kereta. Sialnya aku, aku absen 33 dari 34. Jadi, aku, temanku yang absen 34 (Vito), dan Mama Della duduk satu bangku (untuk 3 orang). Sialnya bukan di situ. Sialnya, Mama Dita menggantikan Syidan, dan Mama Dita ingin tukar duduk dengan Vito. Jadi, aku duduk sendirian bersama orang-orang dewasa, tanpa ada temanku sama sekali di belakang, depan, samping, atau manapun. Karena aku dan teman-temanku terpisah karena satu rombongan di antara kami. Parahnya lagi, tempat dudukku paling pojok, jadi dekat tembok kotor, dan dekat kamar mandi, yang baunya sedikit terasa.

Aku menangis. Banyak. Entah ada yang mengetahuinya atau tidak.

Hal buruk selanjutnya, singkat saja, aku turun di stasiun Gubeng Baru, padahal akan lebih dekat ke tujuanku (Bratang) jika aku turun di stasiun Wonokromo.

Selanjutnya, saat sampai di rumah nenekku di Bratang, aku dicueki oleh adikku, di saat aku butuh setetes perhatian. Aku juga dimarahi oleh mamaku, aku lupa karena apa. Yang jelas ada memori buruk tentang mamaku pada hari itu.

Hari itu menjadi salah satu hari paling menyedihkan dan depressing yang pernah aku alami.

Hikmahnya adalah : kau tak pernah mengerti apa yang TELAH dan SEDANG orang lain alami. Jadi, be kind. that's it.

Comments

Popular posts from this blog

Breakdown Gara-gara Konstantinopel